Padang, Sumbar.fyi — Sampah kayu yang terbawa banjir di Kota Padang kini tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan. Sebagian material kayu dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Pemanfaatan tersebut mendapat perhatian dari Wakil Ketua Komisi IV DPR RI. Ia menilai langkah ini sebagai bagian dari upaya ekonomi sirkular, sekaligus mengurangi beban limbah pascabencana banjir yang kerap melanda wilayah Padang dan sekitarnya.
Sampah kayu berasal dari material alam dan bangunan yang hanyut saat debit sungai meningkat. Dalam beberapa kejadian banjir terakhir, volume kayu terbilang signifikan dan sulit ditangani jika hanya mengandalkan pembersihan manual.
Pemanfaatan kayu sebagai bahan bakar dinilai mampu memberi nilai tambah. Selain mengurangi timbunan sampah, langkah ini juga membantu suplai energi bagi pembangkit listrik. Namun, pendekatan ini masih bersifat hilir dan tidak menyentuh penyebab utama banjir.
Di Sumatera Barat, banjir berulang kerap dikaitkan dengan kerusakan daerah aliran sungai, pembukaan lahan, dan lemahnya pengawasan tata ruang. Sampah kayu terus hadir setiap musim hujan, menandakan masalah struktural belum selesai.
Pemanfaatan limbah banjir menjadi energi menunjukkan inovasi pengelolaan pascabencana. Namun, tanpa perbaikan hulu lingkungan, solusi ini berisiko hanya menjadi pengelolaan sisa masalah, bukan pencegah bencana.
Langkah energi alternatif ini memberi manfaat jangka pendek. Tantangan Sumbar ke depan tetap pada upaya menjaga hutan, sungai, dan tata ruang agar banjir tidak terus berulang setiap tahun.































