Sumatera Barat, 15 Januari 2026 — Pemerintah melalui Kementerian Pertanian resmi memulai rehabilitasi sawah yang rusak akibat banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Sumatera Barat. Program ini digelar setelah bencana skala besar akhir November 2025 yang merusak ribuan hektare lahan pertanian di wilayah Sumatra.
Menurut data Kementan, total 6.451 hektare sawah di 14 kabupaten/kota di Sumbar terdampak bencana tersebut, dengan 3.624 ha masuk kategori rusak ringan hingga sedang dan lebih 2.000 ha rusak berat.
“Program rehabilitasi sawah ini dilakukan serentak di tiga provinsi terdampak bencana, termasuk Sumbar, Aceh dan Sumatera Utara,” ujar Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian Sam Herodian.
Pelaksanaan awal difokuskan pada sawah rusak ringan dan sedang, yang dinilai bisa segera kembali produktif. Langkah awal termasuk pengerukan material banjir berupa pasir, batu dan kayu yang menyumbat saluran pertanian, agar tanah siap tanam kembali pada musim tanam berikutnya.
Rehabilitasi ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional dan pendapatan petani pascabanjir besar di Pulau Sumatra. Petani di Sumbar, yang bergantung pada produksi sawah, diharapkan bisa pulih lebih cepat melalui dukungan teknis dan fasilitas dari pemerintah pusat.
Program rehabilitasi juga dipadukan dengan normalisasi sungai dan perbaikan jaringan irigasi agar aliran air kembali stabil. Dukungan alat dan mesin pertanian serta bantuan benih diintegrasikan untuk mempercepat pemulihan produktivitas.
Upaya ini menjadi momentum penting bagi petani Sumbar untuk bangkit dari kerugian pascabanjir dan menjaga ketahanan pangan di daerah. Pemulihan sawah hari ini bukan sekadar memperbaiki tanah, tetapi menata kembali harapan petani Sumatera Barat untuk musim tanam yang lebih baik.































