Padang, Sumbar.fyi — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat meminta kajian mendalam atas rencana pembongkaran jembatan kereta api Lembah Anai, yang merupakan bagian dari Warisan Budaya Dunia UNESCO. Gugatan kajian ini muncul setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda Kabupaten Tanah Datar pada akhir November 2025.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menegaskan bahwa struktur jembatan itu masih memiliki nilai sejarah tinggi. Ia menyampaikan bahwa jembatan tersebut berkaitan erat dengan Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto, yang ditetapkan sebagai situs warisan dunia. Oleh karena itu, semua keputusan besar, termasuk pembongkaran, wajib melalui studi kelayakan dan analisa komprehensif terlebih dahulu.
Mahyeldi juga menyatakan telah berkomunikasi dengan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. Dalam pembicaraan itu, keduanya sepakat mengedepankan upaya perbaikan atau penguatan struktur bangunan kolonial Belanda itu, jika memungkinkan, ketimbang membongkar secara keseluruhan.
Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan, telah melayangkan surat kepada Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Padang. Surat itu memuat tiga poin penting, termasuk penundaan pembongkaran sampai studi kelayakan selesai. Bila analisa menemukan metode lain seperti konsolidasi struktur, tindakan akan dilakukan sesuai rekomendasi studi.
Selain aspek budaya dan sejarah, studi ini juga mempertimbangkan keamanan masyarakat lokal dan dampak jangka panjang terhadap sektor pariwisata di Sumatera Barat. Upaya ini sejalan dengan perlindungan serta pelestarian aset budaya yang menjadi identitas regional.
Permintaan kajian mendalam dari pemerintah daerah menunjukkan bahwa keputusan tata ruang dan konservasi warisan dunia perlu didasari bukti kuat, bukan sekadar respons darurat. Ini menjadi momen penting bagi Sumatera Barat untuk menegaskan komitmen pelestarian budaya sembari menjaga keselamatan warganya.































