Sebanyak 1.428 ton ikan dilaporkan mati di Danau Maninjau, Sumatera Barat.
Peristiwa ini terjadi dalam rentang beberapa hari dan kembali menegaskan krisis ekologis yang berulang di danau vulkanik tersebut.
Kematian massal ikan berdampak langsung pada pembudidaya ikan keramba jaring apung (KJA). Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai miliaran rupiah, terutama bagi warga di sekitar danau yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan.
Berdasarkan keterangan pemerintah daerah dan instansi teknis, penyebab utama kematian ikan adalah penurunan kadar oksigen terlarut akibat perubahan cuaca ekstrem. Kondisi ini memicu naiknya massa air dasar danau ke permukaan, membawa endapan beracun.
Masalah diperparah oleh kepadatan keramba jaring apung yang melebihi daya dukung danau. Limbah pakan dan kotoran ikan mempercepat penurunan kualitas air, terutama saat cuaca tidak stabil.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan sebelumnya mencatat jumlah KJA di Danau Maninjau jauh melampaui batas ideal. Situasi ini membuat ekosistem danau sangat rentan terhadap perubahan suhu dan angin kencang.
Fenomena kematian ikan massal di Danau Maninjau bukan kejadian baru. Dalam satu dekade terakhir, peristiwa serupa berulang hampir setiap tahun, dengan skala kerugian yang terus membesar.
Kematian 1.428 ton ikan kembali menjadi penanda bahwa Danau Maninjau berada dalam kondisi genting. Tanpa pengendalian serius terhadap daya dukung danau, peristiwa serupa berpotensi terus berulang, dengan dampak sosial dan ekonomi yang semakin berat bagi masyarakat Sumatera Barat.































